KAICIE 2026 Perkuat Internasionalisasi Pendidikan Islam melalui Kolaborasi Global dan Publikasi Ilmiah Bereputasi

Yogyakarta, 8 Oktober 2026-Kalijaga International Conference on Islamic Education (KAICIE) 2026 sukses diselenggarakan pada 7–8 Oktober 2026 di Hotel Grand Rohan Yogyakarta. Mengusung tema “Envisioning Islamic Education for a Sustainable Future: Bridging Faith, Technology, and Global Challenges,” konferensi internasional ini menjadi ruang pertemuan akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, dan pemerhati pendidikan Islam untuk bertukar gagasan mengenai masa depan pendidikan Islam di tengah tantangan keberlanjutan, perkembangan teknologi, dan dinamika global.

KAICIE 2026 diikuti oleh 250 peserta, yang terdiri atas 100 peserta luring dan 150 peserta daring, dengan keterlibatan sekitar 40 perguruan tinggi dan institusi. Peserta berasal dari enam negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Australia, dan Pakistan. Partisipasi lintas negara tersebut mencerminkan upaya KAICIE dalam memperluas jejaring akademik sekaligus mendorong kolaborasi internasional di bidang pendidikan Islam.

Konferensi ini menghadirkan sejumlah akademisi dan pakar pendidikan dari dalam dan luar negeri. Tiga opening speakers yang berkontribusi dalam pembukaan konferensi adalah Prof. Noorhaidi, Rektor UIN Sunan Kalijaga; Prof. Dr. Sigit Purnama, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga; serta Prof. Sutrisno dari UIN Sunan Kalijaga. Sementara itu, sesi keynote menghadirkan Prof. Ahmad Omar Chapakia dari Fatoni University, Thailand; Assoc. Prof. Dr. Melanie C. Brooks dari Edith Cowan University, Australia; serta Syaikh A. M. Mabrouk Al-Husaini dari Al-Azhar University, Mesir. Rangkaian presentasi dan diskusi akademik juga dilaksanakan dalam tiga panel yang mempertemukan beragam perspektif penelitian dan pengalaman pendidikan dari berbagai institusi.

Salah satu capaian utama KAICIE 2026 adalah produktivitas publikasi ilmiah. Panitia menerima 74 artikel ilmiah yang selanjutnya melalui proses seleksi oleh Scientific Committee. Berdasarkan Decision Letter tertanggal 7 Oktober 2026, sebanyak 20 artikel terbaik (Best Papers) terpilih untuk diarahkan menuju publikasi pada jurnal mitra terindeks Scopus. Artikel terpilih selanjutnya akan mengikuti proses editorial, peer review, revisi, dan ketentuan publikasi masing-masing jurnal. Dengan demikian, penetapan Best Papers merupakan bagian dari proses menuju publikasi, bukan jaminan bahwa seluruh artikel akan diterbitkan.

Lima jurnal mitra yang menjadi tujuan publikasi artikel terpilih meliputi Jurnal Pendidikan Agama Islam (JPAI) UIN Sunan Kalijaga, Jurnal Pendidikan Islam (JPI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Nazhruna, Munaddhomah, dan Jurnal Ilmiah Peuradeun. Artikel-artikel tersebut mengangkat beragam isu kontemporer, mulai dari ecopedagogy dan pendidikan lingkungan, keadilan gender, generative AI, kurikulum tersembunyi di pesantren, outcome-based education, literasi big data, pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pembelajaran Hadis, hingga kepemimpinan digital. Keragaman tema ini memperlihatkan luasnya cakupan kajian pendidikan Islam dalam merespons perubahan sosial dan perkembangan teknologi.

Secara substantif, konferensi berfokus pada lima isu utama, yakni ekoteologi dan pendidikan lingkungan; kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan transformasi digital dalam pendidikan Islam; pendidikan Islam untuk pembangunan berkelanjutan; moderasi beragama, pendidikan perdamaian, inklusivitas, dan multikulturalisme; serta isu-isu kontemporer madrasah dan pesantren. Pembahasan tersebut menegaskan pentingnya pendidikan Islam yang tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman sekaligus adaptif terhadap tantangan global.

Momentum bersejarah lainnya dalam KAICIE 2026 adalah peluncuran The Association of Southeast Asian Islamic Education Scholars (ASIES). Inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat jejaring akademisi pendidikan Islam di kawasan Asia Tenggara, membuka peluang kolaborasi penelitian, serta mendorong pertukaran pengetahuan dan pengembangan publikasi ilmiah lintas negara. Melalui pembentukan asosiasi tersebut, KAICIE diharapkan tidak hanya menjadi forum presentasi ilmiah, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi kerja sama akademik yang berkelanjutan.

Keberhasilan penyelenggaraan KAICIE 2026 merupakan hasil kontribusi berbagai pihak, termasuk para narasumber, presenter, peserta, mitra jurnal, dan panitia. Partisipasi dan dukungan mereka menjadi bagian penting dalam mewujudkan forum akademik internasional yang mempertemukan gagasan, memperluas kolaborasi, dan membuka peluang pengembangan penelitian pendidikan Islam.

Melalui KAICIE 2026, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan Islam melalui penyelenggaraan konferensi akademik, perluasan jejaring global, serta peningkatan kualitas publikasi ilmiah. Capaian 250 peserta, 74 artikel yang masuk, dan 20 Best Papers yang diarahkan menuju jurnal terindeks Scopus menjadi bagian dari upaya tersebut.

KAICIE 2026 diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan kolaborasi akademik yang lebih luas dan berkelanjutan. Melalui sinergi antara nilai-nilai keislaman, inovasi teknologi, kepedulian lingkungan, dan tantangan global, pendidikan Islam diharapkan semakin berkontribusi dalam membangun masa depan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.(Muhammad Zakariyya)