Prodi PAI Bekali Kemampuan Mahasiswa melalui Seminar Akademik Bertemakan Qira'at Sab’ah sebagai Khazanah Keilmuan Al-Qur’an

Program Studi Pendidikan Agama IslamFakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali menyelenggarakan kegiatan Seminar Akademik sebagai bagian dari upaya penguatan wawasan keilmuan mahasiswa di bidang studi Al-Qur’an dan keislaman. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 16 Mei 2026 secara daring melalui platform Zoom Meeting dan diikuti oleh mahasiswa PAI angkatan 2025. Seminar dimulai pada pukul 09.00 WIB dan berlangsung dengan suasana yang tertib, interaktif, serta penuh antusiasme dari para peserta.

Peserta yang hadir menunjukkan antusiasme mahasiswa yang telah bersiap mengikuti kegiatan seminar dengan membawa catatan dan perangkat belajar masing-masing. Meskipun dilaksanakan secara daring, suasana akademik tetap terasa hangat dan komunikatif. Para peserta tampak memperhatikan jalannya kegiatan dengan serius sambil menunggu pemaparan materi dari narasumber. Seminar akademik kali ini mengangkat tema “Mengenal Qiraat Sab’ah sebagai Khazanah Keilmuan Al-Qur’an”. Tema tersebut dipilih sebagai bentuk penguatan pemahaman mahasiswa terhadap salah satu cabang penting dalam studi Al-Qur’an yang selama ini belum banyak dipahami secara mendalam. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami Al-Qur’an dari aspek bacaan umum saja, tetapi juga mengetahui kekayaan tradisi keilmuan Islam yang berkembang dalam ilmu qiraat.

Kegiatan seminar menghadirkanCand. Dr. M. Aufal Minan, M.Pd., dosen PAI UIN Sunan Kalijaga sekaligus hafizh dan mujaz Qira'at Al-Qur’an, sebagai narasumber utama. Kehadiran beliau memberikan nilai akademik tersendiri karena selain memiliki kompetensi di bidang pendidikan Islam, beliau juga mendalami ilmu Al-Qur’an secara khusus. Pada awal penyampaian materi, narasumber menyampaikan pentingnya mahasiswa memahami ilmu qiraat sebagai bagian dari warisan intelektual Islam yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an. peserta tampak memperhatikan dengan penuh kesungguhan. Penyampaian materi dilakukan secara komunikatif dan sistematis sehingga mudah dipahami oleh mahasiswa. Narasumber sesekali menyampaikan contoh bacaan qiraat dengan pelafalan yang berbeda untuk memberikan gambaran langsung kepada peserta mengenai ragam bacaan Al-Qur’an yang berkembang dalam tradisi keilmuan Islam. Hal tersebut membuat suasana seminar menjadi lebih menarik dan tidak monoton. Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa Qiraat Sab’ah merupakan tujuh ragam bacaan Al-Qur’an yang diriwayatkan secara mutawatir melalui sanad yang dapat dipertanggungjawabkan. Ketujuh qiraat tersebut berasal dari imam-imam qiraat yang memiliki otoritas dan kredibilitas tinggi dalam periwayatan Al-Qur’an. Narasumber juga menjelaskan sejarah perkembangan ilmu qiraat sejak masa Rasulullah Saw. hingga masa kodifikasi ilmu-ilmu Al-Qur’an oleh para ulama.

Beliau menegaskan bahwa perbedaan qiraat bukanlah bentuk pertentangan dalam Al-Qur’an, melainkan bentuk kemudahan dan keluasan bahasa yang diberikan Allah Swt. kepada umat Islam. Perbedaan tersebut justru menunjukkan keindahan serta kekayaan linguistik Al-Qur’an yang mampu dipahami oleh berbagai suku dan dialek bangsa Arab pada masa turunnya wahyu. Penjelasan ini memberikan pemahaman baru bagi mahasiswa bahwa keberagaman qiraat merupakan bagian dari mukjizat Al-Qur’an yang harus dipahami secara ilmiah dan proporsional. Selain menjelaskan konsep dasar Qiraat Sab’ah, narasumber juga menerangkan tentang para imam qiraat beserta ciri khas bacaannya masing-masing. Materi ini membuat mahasiswa semakin memahami bahwa ilmu qiraat memiliki dasar periwayatan yang kuat dan tidak dapat dipelajari secara sembarangan tanpa sanad keilmuan yang jelas. Narasumber juga menjelaskan bagaimana para ulama menjaga otentisitas bacaan Al-Qur’an melalui proses talaqqi dan transmisi keilmuan yang berlangsung dari generasi ke generasi.

Pada sesi berikutnya, narasumber memberikan beberapa contoh perbedaan bacaan dalam ayat-ayat Al-Qur’an beserta implikasi maknanya. Penjelasan tersebut membuat peserta semakin tertarik karena mereka dapat melihat secara langsung bagaimana satu ayat dapat memiliki variasi pelafalan tanpa menghilangkan substansi makna Al-Qur’an. Mahasiswa tampak aktif mencatat penjelasan penting yang disampaikan, terutama terkait hubungan antara qiraat, tafsir, dan pemahaman makna ayat. Suasana seminar menjadi semakin hidup ketika peserta mulai mengajukan berbagai pertanyaan pada sesi diskusi. Beberapa mahasiswa bertanya mengenai sejarah perkembangan ilmu qiraat, perbedaan antara qiraat dan tajwid, hingga tantangan mempelajari qiraat di era modern. Ada pula peserta yang menanyakan relevansi ilmu qiraat dalam pembelajaran Al-Qur’an di lembaga pendidikan Islam saat ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan tingginya rasa ingin tahu mahasiswa terhadap kajian Al-Qur’an yang bersifat akademik.

Seminar ini dimoderatori oleh Asniyah Nailasariy, M.Pd.I., salah satudosen pengampu mata kuliah Tahsin dan Tahfizh. Moderator memandu jalannya kegiatan dengan baik dan komunikatif sehingga interaksi antara peserta dan narasumber berlangsung aktif. Dalam pengantar acara, moderator menyampaikan bahwa seminar akademik ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai disiplin ilmu Al-Qur’an, khususnya dalam memahami keragaman qiraat sebagai bagian dari khazanah intelektual Islam.

Selain itu, moderator juga mengingatkan mahasiswa agar tidak memandang perbedaan bacaan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang membingungkan, melainkan sebagai kekayaan keilmuan yang menunjukkan keluasan rahmat Allah Swt. kepada umat manusia. Pernyataan tersebut semakin memperkuat pesan seminar bahwa pemahaman terhadap ilmu qiraat harus dibangun melalui pendekatan akademik dan pemahaman keislaman yang moderat. Pelaksanaan seminar berlangsung dengan tertib dan lancar hingga akhir acara. Meskipun dilakukan secara daring, seluruh peserta tetap mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian dan mematuhi arahan moderator selama seminar berlangsung. Berdasarkan dokumentasi kegiatan, tampak mahasiswa mengikuti seminar melalui ruang virtual Zoom Meeting dengan antusiasme yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan adanya semangat mahasiswa dalam mengikuti forum ilmiah yang mendukung penguatan literasi keislaman. Kegiatan seminar akademik ini juga menjadi salah satu bentuk komitmen Program Studi PAI FITK UIN Sunan Kalijaga dalam meningkatkan kualitas akademik mahasiswa melalui forum diskusi ilmiah yang edukatif dan relevan dengan perkembangan kajian Islam kontemporer. Dengan menghadirkan tema-tema yang berkaitan dengan ilmu Al-Qur’an, mahasiswa diharapkan mampu memperluas wawasan, meningkatkan minat kajian akademik, serta menumbuhkan sikap kritis terhadap perkembangan studi keislaman.

Melalui seminar akademik ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan tentang Qiraat Sab’ah, tetapi juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga tradisi keilmuan Islam secara berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus mendalami ilmu-ilmu Al-Qur’an dan mengembangkan kemampuan akademik dalam bidang pendidikan Islam. Dengan demikian, seminar ini tidak hanya menjadi forum penyampaian materi semata, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang mampu membangun semangat intelektual dan kecintaan mahasiswa terhadap Al-Qur’an serta khazanah keilmuan Islam. (Muhammad Zakariyya)